Saturday, July 21, 2012

Yang tak akan kembali (waktu dan kenangan)


Akhir pekan dengan kegiatan rutin yang sangat membosankan membuat Rara jengkel setengah mati. Tangannya pun meraih ponsel dengan setengah hati, mencoba menghilangkan penat dengan mendengarkan musik dan mulai membuka media player di ponselnya.



“Arrggghh memory penuh.” Itu salah satu fakta yang membuatnya tambah sebal. Dengan berat hati Rara membuka folder galerinya dan asal memencet tombol “backspace” di ponselnya.



Oke tunggu….  Eh? Apa tadi yang gue apus?? “images” ha? Apa? Aduuuhhhh!! Bego! Aaarrggghhh oke semuanya terlambat.
Rara hanya bisa terdiam melihat semua foto-foto dan gambar di ponselnya terhapus….. AAAA!! Bego! Perlahan air matanya bergulir di pipinya. Semuanya….. Sekarang hilang. Dan kenapa penyesalan selalu datang belakangan? PERCUMA. Semuanya udah hilang.
                                     
****

Itu memang cuma sekedar foto. Gambar-gambar yang mungkin tidak penting dan memang layak untuk dihapus, menurut orang lain. Tapi…..gimana sama gue?
“Aduh Raa.. itu kan Cuma foto! Foto apaan sih sampe kamu nangis segala?”,kata mama sebal.
“Banyak. Di sekolah, rumah, sama temen-temen SMP yang udah pada ngga tau kemana, dan ngga tau bisa ketemu lagi ato ngga. Sama temen lama yang sekarang udah pergi ngga tau kemana. Foto guru yang paling Rara sayang waktu dia ulang taun. Foto “dia”. Foto perpisahan. Foto waktu baru kenal temen-temen di SMK. Foto-foto kegokilan kita. Haha. Foto gedung sekolah lama. Foto di sekolah baru, foto waktu liburan, jalan sama temen, foto sama Lio….”, tapi nyatanya semua itu Cuma Rara sampaikan pada mamanya dalam hati.
Rasanya menghapus kenangan itu……….. Sakit. Iya. Sakit. Sakit kalau gue ingat waktu  ngga akan pernah bisa bawa gue kembali lagi. Sakit waktu ingat semua berubah dan ngga akan sama lagi. Hanya bisa memandang foto-foto itu dan semua terasa sudah cukup indah.
Sakit waktu mama bilang,”Itu cuma foto!” Sedih dan bener-bener kesel kenapa foto-foto itu ngga ada back-up-annya. Tapi satu kalimat yang bener-bener jadi pelajaran buat gue,”Mau kamu nangis sampe besok juga tetep aja yang udah ilang ngga akan pernah balik lagi!” iya semua yang udah hilang/pergi ngga akan pernah bisa kembali lagi. Semua kenangan itu ngga akan pernah kembali lagi. Yang ada sekarang cuma penyesalan dan semua kenangan-kenangan itu tinggal tersisa di lubuk hati terdalam.
Toh kita hidup untuk sekarang dan besok.. Bukan sekarang dan kemarin. Yak begitu. Kita hidup bukan untuk tinggal di masa lalu. Tapi untuk mempersiapkan masa depan. Kenangan itu bukan untuk dilupakan, tapi juga bukan untuk diingat setiap saat. Kapan majunya kalo begitu? Waktu itu ngga akan pernah balik lagi. Jangan sesali yang udah lewat, tapi perbaiki selama masih bisa. Dan jangan sampai kesalahan yang sama terulang lagi.
Gue belajar, yang udah.. Ya udahlah… Tapi jangan sampai kita jatuh di lubang yang sama. Bego bener sih lewat situ berkali-kali tapi ga inget ada lobang. Ya kan? Oke hehehe jangan diartikan mentah-mentah gitulah, yang penting tau maksudnya ehe :)

Saturday, June 30, 2012

because of you - keith martin

If ever you wondered if you touched my soul yes you do
Since I met you I'm not the same
You bring life to everything I do
Just the way you say hello
With one touch I can't let go
Never thought I'd fall in love with you...

Chorus:
Because of you, my life has changed, thank you for the love and joy you bring
Because of you, I feel no shame, I'll tell the world it's because of you

Verse 2:
Sometimes I get lonely and all I gotta do is think of you
You captured something inside of me
You make all of my dreams come true
It's not enough that you love me for me
You reached inside and touched me eternally
I love you best explains how I feel for you...

Chorus:
Because of you, my life has changed, thank you for the love and the joy you bring
Because of you, I feel no shame, I'll tell the world it's because of you

Bridge:
The magic in your eyes
True love I can't deny
When you hold me I just lose control
I want you to know that I'm never letting go
You mean so much to me I want the world to see,
It's because of you

Chorus:
Because of you, my life has changed, thank you for the love and the joy you bring
Because of you, I feel no shame, I'll tell the world it's because of you
My life has changed thank you for the love and the joy you bring
Because of you, I feel no shame, I'll tell the world it's because of you...

Wednesday, May 23, 2012

Pergumulan Hidup Remaja Jaman Sekarang (hehe :D)


Gue bukan tipe orang yang sering punya masalah berat layaknya cerita-cerita di film yang bersaing rebutan untuk ditonton. Ya, pokoknya hidup gue ngga serumit itu. Terus? Penting ngga sih buat lo tau?  Ya engga sih sebenernya. Tapi satu yang mungkin lo harus tau. Hidup yang lempeng-lempeng aja begini itu heemmm gimana ya, kurang asik gitu lah. Bukan berarti gue mengharapkan ada masalah atau sesuatu yang ngga gue harapkan. Tapi gue mau buat hidup gue lebih berarti. Jadi sesuatu gitu lah. Tapi gimana caranya?
Gue sering banget denger kata orang, “Kalau kamu ngga tau apa tujuan kamu hidup, lebih baik ngga usah hidup.” Ya intinya kurang lebih seperti itu. Selama 16 tahun lebih gue hidup di bumi Indonesia tercinta ini, gue ngga pernah tau dan ngga pernah peduli untuk apa gue hidup. Dan cuma bisa jawab,”Disuruh orangtua.” saat ada orang lain menanyakan alasan aku sekolah di tempat ini.
Oya gue sekolah di salah satu sekolah kejuruan swasta di Jakarta, yang sampe sekarang gue sama sekali ngga pernah mencintai jurusan yang aku pilih. Haha alasannya? ya itu tadi,"disuruh orangtua" Tapi aku sama sekali ngga pernah merasa terpaksa untuk melakukannya. Karena aku sungguh-sungguh tak tau harus memilih sekolah dimana. Jadi ngga salah kan ngikutin kata ortu? Tak pernah sekali pun terlintas dipikiranku untuk memikirkan hal semacam ; sekarang harus apa, nanti harus jadi apa, dan bagaimana aku hidup kelak.
“Tuh Ra denger! Masa sampe sekarang lu ngga tau sih abis lulus mau ngapain?”
“Yaaa.. Abis gue emang bener-bener ngga tau. Kuliah dimana juga masih belom kepikiran. Tau ah”, itu jawaban standar gue kalau lagi apes ngobrol tentang topik yang satu ini. 
Satu kutipan bagus (atau mungkin engga) yang pernah gue baca di sebuah novel yang gue lupa judul dan pengarangnya:
“Kita bakalan masuk universitas, lalu bakalan kerja, lalu kenal sama seorang cowok dan nikah….. Semuanya berjalan selalu begitu. Lalu kita punya anak, ngeliat anak besar lalu melihat mereka menikah. Sampai akhirnya kita tua dan mati. Membosankan kan?”

Kalau boleh gue jawab pertanyaan itu dengan satu kata,”YA” sesungguhnya hidup seperti itu sangat membosankan. Dan apa yang harus gue lakukan? kalau gue aja sama sekali ngga ngerti apa aja yang gue ga suka atau gue suka? 
Kadang kepikiran juga, siapa yang lebih menyedihkan? Lo yang udah merencanakan masa depan lo nanti tapi sayangnya ditentang orangtua tercinta? Atau lo yang sama sekali ngga ngerti hidup lo sekarang harus diapakan dan nanti harus apa untuk melanjutkan hidup? Sebenernya menurut gue ngga ada yang lebih menyedihkan dari kedua posisi itu. Keduanya beda tipis kan? Oke gue ada di kondisi yang kedua. Jadi gue harus apa??

Baca juga yang ini : Berguna atau Terbuang

Saturday, May 5, 2012

Saat Kita Beranjak Dewasa

Rara dengan segala kelakuan rusuhnya dipagi hari sebelum sekolah, udh bisa gantiin kerjaannya ayam jago (bangunin orang tidur). Itu yang dilakukannya sedari tadi. Rusuh nyari ini itu. Hahah. Diomelin mama itu biasa, "Bukannya disiapin dari semalem! Sekarang deh kelimpungan." Yaaaa ocehannya cuma jadi angin lalu waktu mama bilang itu semua.

Faktanya ya begitulah Rara tiap hari. Lari sana sini nyari, buku, sepatu, baju, dan kawan-kawannya yang kadang malah kabur ke negeri antah berantah hehe. Ditengah kesibukannya pagi-pagi udah ngerusuhin orang tidur, hp Rara kedip-kedip ikutan heboh. Telepon masuk.
"Hmm siapa coba pagi-pagi buta gini?" eh ngga sih udah setengah 6 lewat... "Lio" Ha? Ngapain?

"Ra? Kamu udh berangkat belom?"
"Heem belom sih emang kenapa?"
"Tapi udah siap belom?"
"Yaa paling tinggal ganti baju doang trus jalan, kenapa siih??"
"Aku kesana ya? Jemput kamu."
"Ha?? Serius??"
"Iya."
"Yaudah. Aku tunggu."

Walaaahh kenapa jadi gini deehh..... Bingung kan gue musti bilang apa. Rara tambah kelimpungan dengan fakta yang barusan dia dapat. Pacarnya bakal sampe sini dalam beberapa menit! Aduh mampus deh.
"Ma, Lio mau kesini jemput Rara."
"Ha? Sekarang? Lah emang dia dimana? Ngga kejauhan tuh?"
"Ngga tau deh, dia udh dijalan, kayaknya udah deket."

Dengan kecepatan angin Rara menyelesaikan kesibukannya; sisiran, ganti baju, makan, siapin buku, dkk haha, ya walaupun hasilnya ngga bagus-bagus banget. Ya abis mau gimana lagi.

Tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari dalam, yaa siapa lagi kalau bukan ayah, hahaha "ckck kamu tuh punya pacar setia banget sih"
"Yee kan malah bagus gimana sih.", kata Mama sebagai balasannya.
"Ya udah bagus deh, Ayah kan bisa tidur lagi ga usah nganterin kamu."

****

Wah tumbeen ada yang berpihak sama guee. Hahaha asik asik. Tapi kenapa bokap gue ngomong nadanya jutek, sinis, sepet didenger gitu ya? heemm

**sekian**

Kalian sadar ngga sih? Ada kecemburuan di kalimat itu. Kalian sadar ngga sih? 
Saat kita mulai beranjak dewasa, kita mulai jarang di rumah, lebih banyak menghabiskan waktu sama temen-temen atau pacar. Di rumah kita sering lebih sibuk dengan ponsel, atau laptop di kamar.

Kalian tau ngga sih? Orang tua itu kangen loh sama kita. Kangen ngobrol bareng kita, pengen denger cerita kita, atau sekedar makan atau menghabiskan waktu bersama..

Saat Rara disamperin pacarnya, Ayah sebenernya ngga rela anak gadisnya pergi sama cowoknya karena Ayah masih ingin menjaga gadis kecilnya. Seperti yang ia lakukan dari dulu. Namun Papa atau Mama sering harus merelakan kita untuk pergi bersama teman-teman. Bahkan kita sama sekali ngga berpikir untuk menghabiskan malam minggu atau hari libur bersama mereka.
Padahal kalian tau ngga sih? Saat kalian pulang malam (yaa terutama cewek) mereka berdua menanti dengan khawatir sambil sesekali menghubungimu. Dan itu justru itu yang membuat kita tak nyaman.

Kita sering menghabiskan waktu seharian untuk sekedar ngobrol sama temen-temen. Kita bisa menyisihkan waktu berjam-jam di depan monitor sekedar untuk online. Atau tangan kita ngga pernah bisa lepas dari yang namanya HP.

Kadang hal semacam itu bisa bikin orang tua kita cemburu.. Jadi, yaaa... Ayo deh kita mulai kasih waktu buat sekedar ngobrol sama Papa atau Mama. Kita butuh dunia luar, tapi bukan berarti lupa rumah hehe :)

O iya gue dapet video dari seseorang, mungkin bisa gue share disni. Mungkin juga bisa jadi bahan renungan :)
 

Monday, April 16, 2012

YANG TIDAK BISA DIUCAPKAN PAPA ..




Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.. akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.

Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil.. Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu...

Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya"
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba. Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"

Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : "Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".

Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja.... Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".

Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..

Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu... Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama....

Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia.... :')

Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.

Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...dan setelah perasaan khawatir itu berlarut- larut... ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang? "Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.

Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...

Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

Ketika kamu menjadi gadis dewasa.... dan kamu harus pergi kuliah dikota lain... Papa harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?

Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .

Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.

Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".

Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.

Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...

Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"

Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu".

Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.

Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.

Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.

Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..

Karena Papa tahu.....

Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya.... Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan
bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa
pun tersenyum bahagia....

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa.... Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik.... Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik.... Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...

Dengan rambut yang telah dan semakin memutih.... Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....

Papa telah menyelesaikan tugasnya....

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita... Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat... Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...

Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..

Saya mendapatkan notes ini dari mama tercinta yg dia dapet dr temennya. gue ngerasa pantes buat ngebagiin ini semua ke kalian para pembaca yg setia krn mungkin kita sering mengalami itu.


Yup, banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Ayah / Bapak / Romo / Papa / Papi kita... tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya ;)


 ****
diambil dari www.merahijomerahijo.blogspot.com
sekian terima kasiihh :) 





Ketika Hati Bertanya

Sebuah perpisahan tanpa kata berpisah itu....... bener-bener ngga enak. Saat orang yang kamu sayang harus pergi tanpa mengucap sepatah katapun.
Melihat senyum dan tawanya membuatku membeku hingga tak dapat berkata. Sampai akhirnya semua harus berakhir tanpa sepatah kata pun. Sedih? Ya. Tapi ini semua salahku ketika membiarkannya pergi begitu saja. Aneh? Ya, seharusnya tidak begini. Seharusnya begitu. Tapi begitulah. Kini aku melihatnya menjauh tanpa mampu berbuat apapun. Hingga aku teringat sesuatu yang terus berkelibat dipikiran,
"Menurut lo Awan sayang sama lo?"
"Hmm sayang lah, emg kenapa?"
"Lo percaya gitu dia serius sayang sama lo?"
"Yaaahh emang ada alasan supaya gue ngga percaya?"
"………….."

****
Tapi kemudian muncul satu pertanyaan lain, "Emang ada alasan supaya gue percaya?"
Apa sih yang buat kalian percaya sama seseorang? Gue sendiri ngga tau kenapa gue bisa mempercayai seseorang.. Tapi yang jelas, gue cuma ngikutin kata hati. Karena gue sayang sama dia. Jadi?

*untuk penggalan cerita diatas, nama disamarkan. sekian terimakasiih  :P

Friday, April 6, 2012

Antara Kau dan Dia (part 2)

baca part 1 nya di antara kau dan dia (part 1)

 "Nah itu Mas Etta pulang..", kata Ibuku sambil melangkah menuju pintu.
Aku melihat seorang laki-laki paruh baya didepan pintu rumahku. Ia berdiri dengan tas pinggang menggantung di pundaknya serta sepatu futsal di sebelah tangannya. Ya, dia kakakku :)


Sementara dia yang sedari tadi duduk di ruang tamu hanya diam. Dia hanya mengulum sebuah senyum sedikit dipaksa. Entah hanya perasaanku saja atau memang masih ada sisa tangis di wajahnya.
"Kamu udah lama?", tanya Mas Etta.
"Engga, baru nyampe kok."
Ha?? Baru nyampe?? wkwkwk bisa banget basa-basinya. Jelas-jelas dia nunggu hampir lumutan gitu..
"Kamu sendirian?"
"Engga kok tadi sama Om, tapi dia pulang duluan.."
"Ooohh bentar ya dek, Mas mandi dulu."
"iya"



Wajahnya masih merengut, ga beda jauh sama tadi.. Aku melihat mereka dari kejauhan, keduanya tampak berusaha menutupi segalanya. Berusaha membuat segalanya tampak normal. hmm kok bisa gitu ya? Namun aku tau sejak saat itu semua tak akan sama lagi..

"Mas, kamu beneran mau pergi? Trus aku gimana?"
"Sepertinya kita memang ngga jodoh.. Aku ngga bisa lebih lama lagi disini. Kita terlalu berbeda, dan tidak akan pernah bisa bersatu. Lagipula aku mau mengejar mimpiku disana."
"Mas serius?"
"Iya.. Maaf.."

                                                 
                                                          ****

"Ati-ati ya mas disana, kalo ada apa-apa cerita. Jangan dipendem sendiri.", tutur Ibu pada Mas Etta.
"Iya. Ya udh Mas berangkat dulu ya.", katanya seraya mencium tangan Ibu kami dan memeluknya. Setitik air terlihat di ujung matanya, bersiap untuk keluar namun ditahannya. Astaga ia menangis? Ia bisa menangis juga? Seorang yang selama ini kukira dingin, jarang di rumah, juga bisa menitikan air mata?


"Ati-ati yo le.. Ojo macem-macem neng kono.", lanjut Bapak lalu menepuk bahunya seolah berkata,"Kamu bisa nak :')"


Aku hanya bisa terdiam tak mampu berkata melihat semuanya.
"Dek, Mas Etta berangkat dulu ya. Kamu jangan nakal, bantuin Bapak Ibu. Sekolah yang bener..", katanya kemudian. Lalu tangannya meraihku dalam peluknya dan mengacak rambutku pelan. Sungguh aku akan sangat merindukannya.. Hatiku bergetar, mataku memanas. Tidak aku tidak boleh menangis :)

Hingga akhirnya aku hanya bisa melambaikan tangan sambil menatap kepergiannya..  Aku tau ini bukan akhir, namun satu hal yang aku tau pasti. Aku pasti akan sangat merindukannya..

                                                             ****

Sebuah pertemuan selalu ada akhirnya. Jadi sebenernya kenapa mereka dipertemukan? Kalau harus berpisah? Bukankah itu terlalu menyakitkan? THE END

maaf kalau endingnya mengecewakan.. atau ngga ngerti ceritanya hehehe cuma mencoba belajar.. 


Monday, February 20, 2012

Kesungguhan Dalam Hati

"Semua tampak gelap. Hanya cahaya lilin yang nampak. Seiring waktu aku mulai terbiasa dalam suasana gelap malam itu. 


Sunyi, tenang, nyaman sungguh hampir membuatku tertidur. Memang bukan waktu dan tempat yang tepat. Saat yang lain merenung, dengan tangis menyesal.
Aku duduk menuduk sambil sesekali memejamkan mata, mengantuk. Aku bukan anak bandel yang selalu mebuat onar, tapi juga bukan anak yang sungguh patuh pada aturan.


Jahatkah aku? Ketika sama sekali tak punya rasa malu, tak merasa bersalah. Aku tidak menyesal. Tangis bukan tanda kamu lemah. Tapi tangis itu membuatku sadar, mereka benar-benar menyesal. AKU? Terdiam bingung apa yang harus dilakukan. Hatiku mungkin terlalu keras. Ya mungkin itu kenyataannya. Aku sungguh membuat benteng yang begitu kokoh supaya orang lain tak dapat melihat ke dalam. 


Aku melihatnya, aku melihat mereka. Tampak begitu sedih dengan wajah frustasi. Ada apa? Aku tak tahu, tak ada yang tahu. Tak ada perkataan, hanya ada isak tangis disertai doa tulus dalam hati. Bahunya berguncang, nafasnya tak teratur. Aku sungguh ingin merengkuhnya, mendengar semua ceritanya. Bisakah?"



Sunday, February 19, 2012

Antara Kau dan Dia (part 1)

"Permisi..."


Kudengar suara seseorang disertai ketukan pintu. Seketika aku membeku. Aku mengenal suara itu, aku hanya bertemu dengannya sekali dan mendenger suaranya via telpon beberapa kali. Namun firasatku mengatakan itu DIA. Aku yakin itu dia. Dan aku berlari kedalam memanggil Ibu karena terlalu takut membukakan pintu.


"Siapa ra?"
"Ngga tau. Ibu aja deh yang bukain pintu." kataku menutupi yang sebenarnya.


Kubuka jendela kamarku dan kulihat seorang gadis berdiri menunduk di depan pintu rumahku. Ia mengenakan jaket tipis dipadu dengan celana jeans santai.


"Permisi Bu, Etta ada?
"Eh? Ettanya lagi keluar." kata Ibuku sedikit terkejut.
"Kemana Bu?" Suaranya nyaris tak terdengar karena tangis.
"Main futsal sama anak-anak. Mbak Na sendirian?"
"Ngga. Sama Om."


Lalu kudengar Ibu mempersilahkan Mbak Na masuk. Ada seorang lelaki dibelakangnya. Nampak tua, berkacamata dengan tubuh tinggi besar.


Sebulir air menetes. Lagi, lagi dan lagi
Mereka tampak begitu bahagia meluncur di wajahnya. Ia tampak pucat, diam sambil terisak. Entah suaranya pergi kemana. Ia tak dapat berkata-kata.


Aku tak mampu berkata. Duduk terdiam dikamarku sambil mencoba mencerna pembicaraan mereka. Aku tak mengerti apapun dan tak dapat melakukan apapun. Hanya satu yang kuminta. Semua akan baik-baik saja. Harus baik-baik saja.


Aku tersenyum kecut, "Kalau begini susah kan? Mau gimana coba?"
Perbedaan ini membuat semuanya makin rumit. Cinta. Ya satu kata seribu makna yang mebuat orang tertawa menangis, dan berjuta perasaan lain. Itu dia sumber masalah dari segalanya.


Aku tak pernah begitu peduli apa masalahnya. Namun jauh dalam hatiku aku sungguh tak mau kehilangan dia. Sungguh, jangan.


Tiba-tiba Ibu menghampiriku,"Ra, telponin Mas Etta dong, kasian Mbak Na"
"Ngga mau ah. Ibu aja. Rara ga punya pulsa.", jawabku beralasan.


Aku tak pernah benar-benar mengenalnya. Yang kutau dia kakakku. Seorang kakak yang baik yang dulu sering mengajakku berkeliling komplek naik sepeda, yang dulu sering membuatku menangis saat dia pergi tanpa mengajakku, yang dulu sering mengeluh karena harus menjagaku. Tapi itu dulu. Sekarang? haha Dia layaknya guru les privat yang lebih sering bolosnya dari pada datangnya hihi. Ya itulah kami. Tak pernah bertengkar, jarang bertemu, jarang berkomunikasi.


****


"Mas, Mbak Na di rumah nih, kamu mau pulang ngga?", samar-samar aku mendengar suara Ibu. Sebentar lalu hubungan diputus. Aku berharap itu yang terjadi. Semuanya harus diputus. Berhenti sampai disini. Mungkinkah?


*BERSAMBUNG...*


*yak mas-mas, mbak-mbak, temen-temen, om-om, tante-tante. maaf ceritanya sangat amat teramat sangat menggantung. Insipirasi mentok. Ditunggu ya lanjutannya.. Semoga masih ada kelanjutan ceritanya heheh*

Saturday, December 24, 2011

Sahabat (made by: Priska Nia Wheni A.)

Pada saat ku membuka lagi
Rasa ini seakan hadir kembali
Ingatan akan masa-masa lalu
Saat kita tak saling mengenal
Kan ku ingat kau kawan
Awal pertemuan kita dulu

Namun tak kuduga
Ini pun harus terjadi
Awalan yang berujung pada sebuah akhir

Walau kini kita berpisah
Harapan tuk bersama selalu ada
Entah itu kan terwujud atau tidak
Namamu akan terkenang di hatiku
Inilah janjiku sebagai sahabat

Aku tak mengerti mengapa ini harus terjadi
Ruang dan waktu bukanlah halangan
Uang dan harta pun tak menjadi masalah
Kalau memang inilah yang terbaik
Takkan ku elakkan takdir 
Ini semua demi kebaikan